Sabtu, 06 Oktober 2012

10 BERSAUDARA BINTANG AL-QUR’AN (Kisah Nyata Membesarkan Anak Menjadi Hafiz Al-Qur’an dan Berprestasi)
 
Diceritakan dalam buku yang berjudul “Sepuluh Bersaudara Bintang Al-Qur’an”, karya Izzatul Jannah & Irfan Hidayatullah, adalah pasangan Ibu Wirianingsih dan Pak Mutamimul ‘Ula yang mampu melahirkan dan mencetak genarasi unggul yaitu genarasi Qur’ani yang berinteraksi dengan al-quran secara intensif dan dan menjadikan Al-qur’an sebagai basis dan ilmu pertama anak-anak mereka sebelum mereka berinteraksi dengan ilmu-ilmu lainnya.Kedua pasangan ini mengukir azam dan melukis tekad yang kuat untuk menjadikan keluarga mereka sebagai bagian dari “penjaga” Al-Qur’an yaitu dengan menghafalnya dan mewarnai seluruh kehidupan mereka dengan Al-Qur’an. Ditengah tontonan dan arus informasi yang serba egosentris dan hedonis seperti sekarang ini, keluarga ini mampu mengukir cita-cita mulia, dan membuktikan bahwa Al-qur’an adalah solusi segala problema hidup, bisa mendidik genarasi mencintai dan beinteraksi secara intensif dengan Al-Qur’an.

Kedua pasangan suami istri ini adalah pasangan yang kesehariannya jarang sekali dirumah mendampingi anak-anak mereka yang jumlahnya sepuluh, karena saking sibuk dan padatnya jadwal meraka untuk berdakwah dan menunaikan tugas-tugas untuk membina umat.Yang satu adalah adalah pemimpin tertinggi salah satu organisasi muslimah yang cabangnya meliputi 150 kota di Indonesia, sementara yang satu adalah anggota DPR-RI.

Namun demikian, ditengah kesibukan kesehariannya, mereka berdua mampu melahirkan dan membina anak-anak mereka bak bintang-bintang yang cemerlang. Sebagian besar dari kesepuluh anaknya hafal Al-qur’an. Lebih dari itu anak-anak tersebut berprestasi luar biasa didunia akademisnya.

Pasangan ini mengubah cara pandang mengenai prestasi, dimana orang hanya bangga dan mementingkan akan prestasi akademis (prestasi dunia ) saja, namun bagi pasangan ini adalah bagaimana menanamkan akan pentingnya prestasi ukhrawi (salah satunya hafal Al-Qur’an) bagi anak- anak meraka disamping juga prestasi duniawinya. Meraka mendidik anak meraka berdasarkan keyakinan akan janji Allah untuk memiliki prestasi ukhrawi kemudian akan membuahkan prestasi duniawi berupa kecerdasan dan kesuksesan akademis. Itulah yang terjadi pada keluarga Mutamimul ‘Ula dan Wirianingsih. Keyakinan kuat akan keutamaan menghafal Al-Qur’an telah mendorong kesepuluh putra-putrinya tumbuh menjadi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya mampu melafazkan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki prestasi kademis yang membanggakan.

1. Afzalurahman putra pertama, hafal Al-Qur’an 30 juz pada usia 13 tahun, bisa membaca dan mulai menghafal Al-qur’an pada usia 5 tahun. Lahir pada 23 April 1986, tercatat sebagai mahasiswa ITB Bandung, fakultas teknik pertambangan dan Perminyakan, jurusan Teknik Geofisika.Ketua Pembina Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programe 2007. Prestasi yang pernah diraih: Peringkat I di kelas ( SDIT), perwira brigade terbaik SDIT (1998), Ketua PMR/Paskibra MTs (1999), Ketua Osis Mts (2000), Peringkat I ( kelas 1 dan 2 se-MTs), Juara Nasyid pelajar se-Solo (2003).

2. Faris Jihady Hanifa putra kedua,lahir tahun 1987. Hafal Al-Qur’an 30 juz pada usia 10 tahun tahun dengan predikiet mumtaz dalam rentang 2 tahun 10 bulan.- saat tulisan ini ditulis usianya 21 tahun dan duduk semester tujuh Fakultas Syari’at LIPIA- Torehan prestasi yang pernah diraihnya adalah; Peraih juara 1 lomba tahfiz Al-qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Arab Saudi di Jakarta tahun 2003, menjadi imam shalat taraweh di pesantren pada usia 12 tahun, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselengggrakan UNJ tahun 2004, Ketua OSIS MA Al Hikmah tahun 2003,dikampus ia menjadi Sekum KAMMI Jakarta.

3. Putri ketiganya Maryam Qanitat , hafal Al-Qur’an 30 juz pada usia 16 tahun , lahir tahun 1988. Kuliah di jurusan Hadis Fakultas Ushuludin Universitas Al Azhar Kairo, mendapatkan sanad Rasullullah dari Syeikh Al Azhar. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah tahun 2006.

4. Afifah putri keempat, yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas hukum UI.Dia menyelesaikan hafalan 29 juz saat lulus SMA. Preatasinya yaitu juara III lomba murottal Qur’an tingkat SMA se Jakarta selatan (2004) dan sebagai pelajar teladan SMPIT Al Hikmah 2004.

5. Ahmad Rasikh ‘Ilmi anak kelima, kelahiran tahun 1991. Mulai menghafal usia 5 tahun jumlah juz yang dihafal 15 juz. Prestasi yang diperoleh , pelajar teladan SDIT Al-Hikmah 2000, Lulusan terbaik SMPIT Al Kahfi 2006, juara I Kompetisi English Club Al Kahfi 2003. Musyrif Bahasa Arab MA husnul Khatimah.

6. Ismail Ghulam Alim anak keenam lahir tahun 1993, hafal 13 juz Al-Qur’an. Merupakan santri teladan, santri favorit, juara umum, tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut, juara sejumlah kompetisi seperti olimpiade, cerdas cermat, lomba pidato bahasa Arab dan pramuka.

7. Yusuf Zaim hakim, anak ke -7,lahir tahun 1994, hafal 9 juz Al-Qur’an. Juara I di SDIT dan SMP, Finalis kompetisi fisika tingkat Kabupaten Bogor.

8. Muhammad Syahihul Basyir, kelahiran Juanuari 1994. Yang istimewa adalah putra kedelapan ini.Waktu duduk di SDIT Al Hikamh, dia sempat berazam untuk memecahkan rekor hafal Al-Qur’an saat lulus SD. Pada saat itu, dia telah hafal Al-Qur’an 25 juz dan azzam itu tercapai, ia hafiz Al-Qur’an 30 juz.

9 &10. Hadi Sabila Rosyad dan Himmary Musyarah masing-masing anak ke-9 kelahiran 1997dan ke-10 kelahiran 1999, hafal Al-qur’an 2 juz.

Yang menjadi pertanyaan kita, bagaimana mereka bisa mendidik putra-putrinya untuk menghafal Al-Qur’an? Ternyata jawabannya sederha, tetapi memiliki makna dan perjuangan luar biasa.

Keyakinan yang kuat dan kecintaan untuk kembali kepada kalamullah (Al-Qur’an) itu saja yang mendasari pasangan ini untuk membuat anak-anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an. Keyakinan bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dilekatkan dalam hati dan jiwa putra-putrinya. Putra-putri mereka seluruhnya mengawali masa kanak-kanak mereka dengan bergaul secara intensif bersama Al-Qur’an. Pasangan ini secara sistematis telah merancang kurikulum berbasis Al-Qur’an bagi putra-putrinya. Untuk menuju dan mencapai cita-cita mulia tersebut tentu saja tidak mudah, tentu memerlukan ikhtiar yang tidak mudah, pasangan ini terutama sang Ibu, menemani, mendorong, menghibur, serta memotivasi kesepuluh putra-putri mereka untuk menghafal Al-Qur’an.

Maka dalam rangka merealisasikan cita-cita besar ini, pasangan ini berusaha membangun keluarga yang kokoh dan shalih. Ada visi dan aturan yang jelas yang diterapkan dalam keluarga meraka, dimana semua aturan itu tertulis dan wajib dilaksanakan oleh setiap anggota kelurga. Dalam masa-masa awal putra-putrinya menghafal, mereka tidak mempunyai Televisi dirumah, yang lebih banyak berisi tontotan yang tidak mendidik.Tidak ada gambar-gambar syubhat dirumah, tidak ada music-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan nasyid islami.

Keluarga ini melakukan pembiasaan dan menajemen waktu yang memanfaatkan waktu-waktu utama untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, dimana ada 2 dua waktu yang tidak boleh dilanggar dari program yang mereka tetapkan, yaitu waktu setelah shubuh dan setelah magrib, pada kedua waktu itu mereka membiasakan dan mengistiqamahkan agenda agar putra-putrinya mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an selama 1 jam. Dan memanfaatkan masa emas untuk menghafal Al-Quran yaitu, masa kecil. Dalam sebuah kesempatan sang Ibu berkata, “Saya tidak melewatkan masa-masa penting usia emas perkembangan anak. Saya selalu berdoa setiap hari, setiap saat, dari anak kesatu sampai anak kesepuluh agar mereka menjadi generasi unggul.” Pada saat usia mereka masih balita, Ibunya senantiasa membaca Al-Qur’an dekat putra-putrinya, mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an kepada meraka dengan metode belajar sambil bermain, satu hari satu huruf Al-Qur’an. Kedua pasangan ini menerapkan metode dan pendekatan yang berbeda untuk masing-masing putra-putri mereka. Ada yang dimasukkan pesantren Tahfiz, ada yang hanya menghafal dirumah dan Sekolah Islam Terpadu. Penguatan positif yang diterapkan pasangan suami istri ini adalah dengan memberi reward atau hadiah-hadiah kecil yang disukai masing-masing putra-putri mereka.

Demikianlah sepasang suami istri yang merajut asa dan menguklir azam dan tekad untuk menjadikan anak-anak meraka generasi pewaris dan penghafal Al-Qur’an. Meraka telah memulai, lalu bagaimana dengan kita, bagaimana dengan keluarga kita. Adakah dalam diri kita, bagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang terukir dan terpahat dalam Kalbu kita. Adakah Al-Qur’an dihati kita, atau sudahkah kita memprogram dan mencita-citakan untuk menghafal Al-Quran.


(Sumber dan ilustrasi: internet)
— bersama Tiffanie Chandra, Tiyo Petir, Ardiansah, Mbhet Simpel Holaholy, Meigik Sugiharto EU, PS SP dan Bzo Noized.
Poskan Komentar