Jumat, 05 Oktober 2012

Pembelajaran Bagi Orang Tua dalam Memilih Menantu


Saudaraku...
Suatu hari Yazid bin Muawiyah ra datang menemui Abu Darda ra untuk menyunting putrinya yang bernama: Darda’. Namun Abu Darda’ menolak pinangan sang khalifah bani Umayyah itu.

Salah seorang muridnya berkata, “Mudah-mudah Allah senantiasa menjaga kebaikanmu. Apakah anda mengizinkan aku untuk menikahi putri anda?.”

Abu Darda’ berkata,

“Ya.”
Maka laki-laki itu pun meminang puteri Abu Darda’ dan menikahinya. (Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku... Subhanallah, kisah yang sangat menarik dan unik. Yang mungkin jarang kita temukan di zaman gombalisasi ini.

Dari kisah yang menakjubkan ini kita dapat mengambil beberapa mutiara nasihat, yaitu:

• Keutamaan Abu Darda’ ra. Nama besar sang khalifah dan jabatan yang mentereng dalam kaca mata sebagian orang, tidak menjadikannya lemah di depan khalifah. Bahkan ia tidak ragu sedikitpun untuk menolak pinangannya. Karena ia memiliki kriteria khusus prihal suami untuk puterinya.

• Keutamaan dari sahabat Yazid bin Mu’awiyah ra. Walau pinangannya ditolak oleh Abu Darda’, namun ia tidak tersinggung apalagi menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan kehendaknya. Karena ia sadar, bahwa jodoh itu ada di tangan Raja Diraja, dan bukan di tangan penguasa seperti dirinya.

• Bukti kelapangan dada Yazid ra, tanpa lapang dada tentu berat bagi dirinya menerima kenyataan hidup yang baru saja dialaminya. Terlebih ia punya segalanya; ketampanan wajah dan kemapanan hidup.

• Sebagai seorang pendidik atau guru, idealnya kita memiliki kedekatan dengan peserta didik kita. Bukan hanya kedekatan jasad. Yang terpenting adalah kedekatan bathin dan kesatuan hati. Bukan seperti yang banyak kita saksikan di alam realita, para pendidik justru menjaga jarak dengan murid-muridnya,dengan dalih menjaga kewibawaannya.

• Sebagai seorang murid, kita harus cerdas membaca pikiran yang ada di benak pendidik kita. Seperti yang dicontohkan murid Abu Darda’, ketika ia menolak pinangan sang khalifah, ia sadar bahwa sang guru menginginkan salah satu muridnya mendampingi puterinya dalam melayari kehidupan ini.

• Parameter dalam memilihkan pendamping hidup buat anak kita, bukanlah wajah yang kinclong, jabatan yang mengkilap, harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, prestasi dunia yang berkilau dan yang senada dengan itu. Tapi keshalihan pribadi dan ketampanan bathin. Karena dengan ketampanan bathin dan keshalihan pribadi, kebahagiaan hidup dalam keluarga akan terwujud. Sebaliknya, tampilan luar yang jadi ukurannya, seringkali menghadirkan neraka dalam rumah tangga sebelum neraka di akherat sana.

• Menjadi nahkoda dalam pelayaran keluarga memerlukan pengetahuan agama yang memadai. Agar kapal cinta tidak oleng diterpa badai. Tidak goyah disapa ombak. Dan mampu meneropong batu karang yang tersembunyi di dasar lautan.

• Sebagai pemuda lajang, kita harus memiliki kriteria yang terukur dalam menentukan pendamping hidup dan memilih mertua idaman. Sebab jika kita memiliki pendamping hidup yang shalihah, dan mertua yang shalih, maka kebahagiaan kita dalam keluarga semakin sempurna dan membuncah.

Saudaraku,
Siapa di antara kita yang mampu berbuat bijak seperti Abu Darda’? dan siapa di antara kita yang memiliki keberaniaan untuk meminang puteri guru, kyai, atau ustadz kita seperti yang telah dicontohkan santri Abu Darda’ kepada kita? Wallahu a’lam bishawab.

Poskan Komentar