Jumat, 05 Oktober 2012

Pertahankan Pancasila Tetap sakti

Ada kejadian yang memprihatinkan jelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Tawuran pelajar sampai mengakibatkan nyawa melayang, dari pelajar SMA sampai pelajar SD. Sepertinya alasan tak berpendidikan dan tidak mendapat pendidikan sepadan dari orang tua yang sibuk, atau sekolah tak perduli menjadi alasan klise. Hampir setiap rumah, terutama di ibukota Jakarta memiliki televisi. Banyak ilmu yang bisa ditimba dari media satu ini. Informasi dan kepekaan terhadap rasa berbangsa dan bertanah air.

Lantas apa yang terjadi dengan tawuran yang marak belakangan ini? Di mana rasa setia kawan? Di mana rasa menjalankan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi, di mana rasa saling menghormati? Di mana rasa persatuan sebangsa? Dan sebagainya muncul di benak kita tentunya. Apakah tidak ada lagi bincang hangat keluarga saat beranjangsana dengan anak-anak? Apa tak sempat lagi ibu mendampingi belajar anak-anaknya atau minimal anak-anak mempunyai segan bertindak brutal sebab nasihat orang tua yang terngiang? Lalu, jelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila, saya mulai menghubungkan permasalahan anak bangsa ke sini.

Ya, kenapa diperingati Hari Kesaktian Pancasila? Apakah Pancasila itu benar-benar sakti? Pertanyaan itu menggelitik pikiran saya tepat ketika Team Editor meminta saya mengetengahkan tulisan tentang Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Seingat saya saat di sekolah dasar dulu, hari ini akan ada kegiatan kunjungan ke Taman Makam Kalibata, saat itu saya paling gembira karena keluar dari lingkungan sekolah yang menjemukan. Biasanya siswa diminta untuk menuliskan hasil kunjunganya tersebut esok harinya. Mulailah kita mencari koran yang memuat berita tentang Hari Kesaktian Pancasila. Lengkap dengan gambar-gambar yang kemudian direkatkan pada buku gambar. Begitu berbeda dengan jaman sekarang yang tinggal klik Google lantas muncul ragam tulisan tentang sejarah sampai dengan perkembangannyatentang Kesaktian Pancasila sampai sekarang. Contohnya saya, beberapa kutipan tentang muasal Pancasila terpaksa menelusuri Google agar yakin dengan apa yang tersangkut dalam ingatan.

Penggalan catatan dan pandangan saya tentang Pancasila akan saya rangkum singkat. Mencoba mengetuk hati orang tua dan anak bangsa untuk mengingat kembali perjalanan Pancasila. Semoga yang berikut ini bisa bermanfaat.


Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalahpolitis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.

Tahun 1965, tepatnya tanggal 30 September negara dikejutkan dengan adanya pembunuhan 6 jenderal. Jenderal-jederal tersebut adalah:
- Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
- Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
- Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
- Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
- Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
- Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
- Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
- Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)
- Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
- Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.

Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Hari itu, enam Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S-PKI dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, memperingati bahwa dasar Indonesia, Pancasila, adalah sakti, tak tergantikan.


Arti dari Pancasila

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakansuku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.


Lantas, bagaimana dengan penerapannya ke pelajar masa kini. Jelang peringatan G30SPKI semakin banyak tawuran yang mengakibatkan kematian? Apakah yang salah dari pemahaman Pancasila kita? Mari kita renungkan dan coba mengkaji kembali arti dan maksud Pancasila seperti uraian di atas tadi.

Kalau menelusuri keanggotaan PKI yang semakin luas, nyaris 3,5 juta di luar sana, keadaan yang terlihat berpegang di luar dari isi Pancasila, apakah tak selayaknya kita saling mengingatkan tentang isi Pancasila dan tak bosan mendengungkan kepada generasi muda tentang pentingnya pemahaman Pancasila itu sendiri?

Kita wujudkan Kesaktian Pancasila dari kepekaan diri, manakah hal-hal yang tak layak harus dihindari. Sikap keluar dari isi Pancasila harus segera diwaspadai. Alih-alih lena dengan perkembangan jaman, tak ada lagi Pancasila lekat di hati. Mari kita jalani Pancasila sesuai sendi yang terkandung di dalamnya. Bila mulai menyimpang, pertanda perketat kewaspadaan. Terutama pengarahan kepada generasi muda sekarang. Wujudkan Kesaktian Pancasila dengan mempertahankannya.

Jika pengorbanan tujuh pahlawan menjadi contoh kongkrit selamatnya Pancasila. Sudah menjadi kewajiban kita memeliharanya. Biarkan Pancasila tetap sakti.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila.



Disarikan dari berbagai sumber.
Ilustrasi Internet.
Poskan Komentar