Kamis, 20 Desember 2012

KISAH NYATA:...JERITAN HATI,SEORANG SUAMI....


Aku mengutuk dan terus menyalahkan diriku, kenapa bisa??

“ Dasar wanita gak tau diri, gak tau di untung, wanita macam apakah istriku ini” Teriakku yang masih tidak percaya akan kelakuan bejat istriku kala aku tidak ada dirumah.

Aku mengakui diriku bukan lelaki normal, semenjak kecelakaan maut itu yang menewaskan kedua rekan kerja dan kini menjadikan aku lelaki cacat yang impoten, aku lelaki yang telah divonis akan terlalu sulit untuk memiliki keturunan. Dan engkau Dewi ( bukan nama sebenarnya) datang bagai bidadari yang turun dari surga, karena engkau mau aku peristri walaupun sesungguhnya ada banyak kendala yang akan kita hadapi.

Tetapi aku lihat ketulusan airmata di pipi seolah engkau dan berjanji akan menerimaku apa adanya diriku, hingga amanah almarhum orang tuaku aku terjang untuk meninggalkan agamaku, ya aku aku bukan seorang muslim, namun demi Dewi aku korbankan Agamaku. Disaat itu matakupun tertutup akan paras manis wajahmu dan airmata ketulusan, padahal waktu itu engkau berstatus istri orang dengan satu anak, namun engkau mengatakan padaku

“ David, aku akan segera mengurus surat perceraian, aku sudah tidak ada kecocokan dengan suamiku yang hasilnya pas pas. Maukah kau memeluk agamaku, dan menerima anakku sebagai anakmu juga?” itu katamu yang masih ku ingat

“ Ya, sayang aku akan segera menikahimu dan bersyahadat setelah surat perceraian itu keluar, aku sebagai pegawai negeri akan mengurus semua berkas berkas untuk memasukkan Rendra di akteku sebagai anakku, biar nanti dapat juga tunjangan dari kantor” kataku pada Dewi yang berniat menuju mahligai perkawinan.

Hari yang aku nantipun tiba, dengan acara sederhana , aku resmi memeluk agama Islam dan menikahi Dewi. Aku teramat bahagia apalagi istriku pandai juga membantu mencari uang dan tiada henti hentinya mengajakku, terapi dan berobat tradisional.

“Alhamdulillah, ada seorang bapak dimana tmpatku terapi katanya “ Teruslah berusaha, masih ada kesempatan meskipun kecil, untuk kau memiliki keturunan” Lega hatiku dan tak berkecil hati aku terus ikhtiar dan sholat sholat sunnah tak pernah ku tinggalkan,, memohon akan kesembuhanku.

Tepat setelah 4tahun pernikahan, Alhamdulillah maha besar Allah, Istriku hamil, aku begitu menjaganya dan merawatnya. Ku larang Dewi untuk bekerja, namun istriku bersikokoh tidak mau alasannya karena ingin beraktifitas meskipun hamil.

Namun ketika kandungan menginjak usia 5bulan, musibah menimpa istri, tiba tiba dia keguguran ke tika mandi, istriku histeris dan teramat terpukul, aku mencoba memberikan kekuatan,

“Sudahlah, Ma. Kita jangan patah semangat ya? Kita berusaha terus, ikhlaskan kejadian ini, mungkin Allah masih belum percaya penuh untuk memberikan kita seorang anak lagi, kan kita sudah punya Rendra, dia udah aku anggap anak kandungku” hiburku pada istriku yang terus menangis.

Aku kembali bertugas ke luar pulau selama 3bulan, namun baru aku tinggalkan 2 bulan istriku memberi kabar dia hamil lagi, aku bahagia sekali walaupun dalam pikiranku sejenak sempat terlintas

“kenapa bisa begitu cepat hamil lagi, ah mungkin ini saatnya Allah memberiku momongan,” bisikku dalam hati.

Aku bekerja sebagai pegawai negeri yang selalu dikirim keluar pulau, disaat itulah tanpa sengaja aku berkenalan dengan seorang wanita sebut saja namanya Teresa, dia wanita yang sangat disegani di Lingkungan tempatku kerja di Luar Pulau, dari awal kenal namun entah mengapa hati ini seakan tergoda.

Teresa non muslim, aku menceritakan semua keadaan rumah tanggaku, hingga entah mengapa ketika masa dinasku habis dan akan segera pulang ke Surabaya, Teresa pingin ikut dan juga di Surabaya dia punya sanak family.

Setelah kami berdua sampai Surabaya, kami berpisah menuju tempat masing masing, setiba di rumah aku peluk istriku, dia diam aja, dan aku amati hari hari selanjutnya seolah ada bisikkan bahwa anak yang di kandung bukan darahku, aku terus seperti di hantui bisikkan itu.

“David, cobalah kamu tenangkan diri, yuk ikut aku, aku kenalkan pada Tuhanku, kamu ceritakan pada nya disana” ajak Teresa, ketika aku mengajaknya bertemu dan menceritakan keluh kesahku.

“Hay, Teresa aku ini muslim, aku mualaf, apa nanti kata beliau?” jawabku pada Teresa

“David, Beliau adalah orang penyayang, dan pastilah dia akan mengampunimu, jika kamu mau bertobat dan kembali ke agama keluargamu, kamu di kutuk karena melanggar amanah orang tuamu yang melarangmu meninggalkan keyakinan keluargamu” Jawab Teresa

Aku makin, banyak pikiran seolah syetan lebih kuat merasuki jiwaku, sholat mulai ku tinggalkan dan bayangan Dewi seakan sirnah, karena yang ada dipikiranku saat ini hanya ingin tau anak siapa di rahim istriku ini??

“Dewi, Dewi, kemarilah sebentar, papa mau ngomong” panggilku pada Dewi kala sore hari aku ingin santai ngobrol dengannya

“Ada apa pa?”Tanya Dewi

“ Duduklah,sebentar aku mau bicara”

“Anak siapa dalam kandunganmu itu” Tanya aku

“Siapa wanita itu, apa dia lonte kamu?’ aku kaget Dewi tidak marah ketika aku berkata anak siapa, dia malah terus memarahiku dan menghujatku masalah Teresa, padahal sudah aku jelaskan Teresa hanyalah seorang sahabat.

Aku semakin yakin, Dewi malah menantangku minta cerai, namun aku berusaha terus membujuknya, Setelah percekcokan itu Dewi semakin jauh, dia tak pernah mau aku dekati . Kala aku ingin bersetubuh, bagaimanapun aku lelaki juga ingin mendapat sentuhan dari istri. Tapi dewi malah memilih pisah ranjang, “jangan sentuh aku,” bentak Dewi , jika aku berusaha mencumbunya.

Tangis bayi mungil terdengar, aku bahagia, seorang bayi mungil terlahir dengan kulit putih dan gemuk, hii aku ingin menciumnya, namun lagi lagi bisikan itu datang, Dia bukan anakmu, ajak istrimu tes DNA.

Setelah kehadiran Emilia, nama anakku aku berusaha membuang pikiran itu dan berkeyakinan Emilia anakku. Aku juga mengingat tes DNA biaya juga tidak murah. Tapi apa yang diperlakukan Dewi, dia terus menuntutku minta cerai, entahlah aku juga makin tidak mengerti akan kelakuan istriku ini, sudah tak cinta dan sayang lagikah dia padaku?

Aku sebagai lelaki juga punya harga diri, aku turuti surat cerai aku proses, namun kami masih serumah dan kami masih makan bersama dan bertegur sapa, namun aku berusaha intropeksi dan mengajaknya damai, tapi Dewi tetap tidak mau, hanya cerai yang diinginkan.

Surat ceraipun sudah jadi dari kantor tinggal memasukkan ke pengadilan, namun lagi lagi ada bisikkan jangan kamu urus dulu surat itu, tapi selidiki tingkah pola macam apa istrimu, dan bersihkan dulu namamu dari cibiran orang, dimana memang istriku mengatakan pada tetangga dan saudara saudaranya perceraian ini terjadi karena aku pindah agama ke keyakinanku yang dulu, dan aku selingkuh, padahal semua itu tidak aku lakukan, aku masih muslim dan aku tidak selingkuh.

Pada hari itu mungkin inilah saatnya kebejatan itu terungkap, aku berpura pura pamitan pada istri untuk bertugas, namun sebenarnya tidak. Tepat pukul 5 sore aku lihat istriku keluar dari kantornya aku ikuti, betapa kagetnya aku ternyata dia menuju sebuah kost rumah tangga.

Aku mencoba mencari informasi, kanan kiri tempat mereka, Masyaallah banyak mereka bilang istriku telah kost disana sudah lama bersama lelaki lain yang mengaku suaminya. Aku mengeluarkan identitas diri bahwa akulah suami yang syah.

Aku menuju rumah RT, meminta izin tuk memergoki mereka, aku bagai tertusuk pisau aku lihat ada lelaki yang selama ini ternyata sahabatku yang pernah aku kenalkan pada istriku setahun yang lalu dan aku lihat ada si kecil Emilia, istrikupun kaget.

“Dewi, apa yang terjadi sesungguhnya ini?’ amarahku memuncak sambil memukul sahabatku ini

“Jangan, dia (Boby) adalah suamiku, kami telah menikah sirri setelah aku keguguran kemaren, dan Emilia memang bukan anakmu, puass” Jawab istriku

Plak plak aku tampar dia, aku hujat sampai aku bersimpuh tangis, tanpa sadar aku menyebut oh Tuhan inikah jawaban itu??

Jadi inikah wujud asli wanita yang sayangi, aku korbankan agamaku, aku kasih namaku, aku beri dia tunjangan walaupun kini aku tau mereka Emilia dan Rendra bukan anakku.

Aku bingung, surat cerai aku lanjutkan dan kini proses cerai sedang berlangsung, hanya satu yang membuat aku sekarang hilang jati diri, Islam ataukah aku yang dulu . Aku masih ingat fatwa fatwa, istriku ketika aku minta dilayani, dia menolakku dengan kasar,

“Tidak, jika kita kumpul sama aja Zinah, kamu sudah bukan muslim, “Teriak istriku, padahal sudah aku jelaskan aku masih muslim.

Kini siapa yang Zinah?? Perkawinan sirri istriku tidak syah karena tidak ada wali dari pihak istriku, dan aku sebagai suami juga tidak tau, kasus ini pernah aku ajukan ke delik pengaduan, dan ternyata ada hukumnya penjara 9bulan buat istri dan selingkuhannya, namun aku menatap Emilia dan masa depannya, karier mereka berdua akan berakhir , tapi apa yang aku dengar dan di bisikkan istriku ketelingaku, ketika aku memberitahukan kasus ini

“Okey David, silakan adukan dan penjarakan kami, tapi ingat setelah 9 bulan aku keluar aku akan membunuhmu”,itu bisik istriku

Ya Allah, wanita macam apa istri yang aku cintai ini, jujur aku masih mencintainya dan berharap kembali, namun istriku memilih meninggalkankanu dan meneruskan dengan sahabatku.

Sebagai akhir kisah ini, aku masih dijalan persimpangan masih Islamkah aku atau kembali ke keyakinanku yang dulu, dimana cibiran keluargaku dan bujuknya terus mengajakku untuk kembali, namun dalam hati aku coba Istiqfar, tidak Ya allah kuatkan iman dalam hatiku,

“Astaqfirrulahhaladzim, ucapku terus sambil bersujud dan menangis serta mengadu akan keluh kesahku padaNYA, aku lupa telah lama sholat aku tinggalkan, Aku bertahajud memohon petunjuk dan kekuatan, airmataku tumpah, aku bercermin lelaki cengengkah aku?? Aku juga punya hati dan perasaan aku terluka atas pengkhianatan istri dan sahabatku.

Dan aku sempat bertelponan sejenak dengan sahabatku itu, bukan aku iri atau niat buruk , aku Cuma mengatakan

“Belajarlah dari aku, wanita apa yang kau nikahi? Kamu masih jejaka menikahi wanita beranak dua dengan umur beda jauh 6 tahun, dua kali dia selingkuh, dua kali dia khianati sebuah pernikahan, wanita apa yang kau nikahi, wanita yang bisa dijamah lelaki lain disaat dia masih bersuami?? Belajarlah dan bercerminlah, wanita seperti itu sudah karakter.dan akan selalu seperti itu dan aku tak tau apa yang dicarinya”

Sahabat Fillah, ini kisah nyata yang di alami seoraang Sahabat, dan beliau memang bercerita pada kami admin, untuk dikisahkan di page ini.

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'bagikan'/'share' dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your Friends!’
Poskan Komentar