Selasa, 12 Februari 2013

**MAKANAN YANG SEIMBANG DALAM ISLAM**

     Islam mengajarkan untuk tidak mengharamkan makanan yang baik-baik yang telah di halalkan Allah sebagai rezeki. Dengan syarat tidak berlebih lebihan dalam mengkonsumsi makanan-makanan tersebut. Sembari tetap memerhatikan aspek keseimbangan antara setiap unsur-unsur makanan yang di butuhkan tubuh. Rasulullahi saw. bersabda:    

    "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di sukai Allah daripada mukmin yang lemah." 
    (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

    Pada bagian pertama ini akan di paparkan pandangan Islam tentang makanan dan polanya yang di awali dari perjalanan manusia sebagai janin sampai lanjut usia, disertai penjelasan mengenai unsur-unsur yang di butuhkan tubuh pada setiap fasenya. Juga tentang waktu dan porsi makan yang baik dan tepat sesuai d e n n-
gan ajaran Islam.

    Di antara hak-hak manusia yang penting adalah hak untuk memperoleh porsi yang cukup dan beragam dari makanan yang aman, agar mereka bisa memenuhi berbagai kebutuhan pokok mereka dan pengembangan kemampuan fisik dan mental mereka. Dengan demikian, hak manusia dalam hal makanan sama pentingnya dengan hak hidup itu sendiri.

    Makanan seimbang adalah makanan ideal, baik kuantitas maupun kualitas, bagi setiap penduduk bumi dengan berbagai macam kepercayaannya. Al-Qur'an telah membuat pondasi dasar yang jelas dan bijak dalam hal makanan ini. Bahkan Nabi Muhammad saw. telah mengukuhkan dasar tersebut sembari member-
ikan beberapa ketentuan dan aturan yang menjamin realisasinya sehingga seorang muslim benar-benar d a-
pat mengonsumsi makanan yang sempurna dan seimbang, jasmani maupun ruhani.

    Islam benar-benar serius dalam memelihara jiwa dan akal. Pemeliharaan jiwa dan akal itu dilakukan d e-
ngan memberikan makanan sehat sejak masa kehamilan, kelahiran, kemudian sepanjang tahapan-tah a p an-
kehidupan berikutnya. Syariat Islam menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang beraneka ragam dan seimbang yang memang dibutuhkan tubuh, sehingga seorang muslim bisa tumbuh sehat walafiat dan n o r -
mal. Benar apa yang di sabdakan Rasulullah saw., "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di sukai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

    Tubuh manusia membutuhkan makanan seimbang yang bisa di konsumsi dan diserapnya, serta menggan-
tikan zat-zat yang hilang darinya, menghilangkan rasa lapar, untuk kemudian menjadikannya kuat be ke rj a
dan beraktipitas, serta memperkuat peran imunitas yang ada di dalamnya guna melawan virus dan penyakit.
Makanan seimbang adalah kata lain dari makanan sehat, sebagai bentuk perwujudan bagi keseimbangan  yg
telah di tetapkan oleh Allah SWT. pada segala sesuatu:
     "Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kalian tidak mel am paui
     batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kalian  meng ur an gi
     neraca itu." (QS. Al-Rahman: 7-9)

    Oleh karena itu, melalui berbagai penelitian kajian mereka, para ahli gizi telah berusaha mengetahui berbagai kebutuhan makanan yang dibutuhkan manusia. Kemudian mereka membuat dasar-dasar pijakan yg
jelas dan benar tenang makanan itu sesuai kondisi, lingkungan, serta usia seseorang.

    Sementara Islam sendiri telah mengajarkan manusia untuk tidak mengharamkan makanan yang baik-baik
yang telah di halalkan Allah Swt. Di mana Dia berfirman:

     "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepa
     da kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah." 
     (QS. Al-Baqarah: 172)

     Sebagaimana Islam telah menganjurkan mereka untuk mengonsumsi makanan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak juga terlalu kikir sehingga hanya mengosumsi saja dari berbagai makanan yang di sediak
an. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt.:

     "Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
     yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)

    Allah ta'ala telah mempersilahkan hamba-hamba-Nya untuk menikmati semua makanan tersedia. Dia telah ciptakan bagi mereka unta, sapi, domba, dan kambing, agar mereka bisa memanfaatkan bulu-bulunya
sebagai penghangat dan dagingnya untuk di makan guna memelihara kelangsungan hidup mereka. M a h a
benar Allah yang telah berfirman:
     "Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kalian. Padanya terdapat (bulu) yang menghangatkan dan
     berbagai manfaat, dan yang sebagian lagi kalian makan." (QS. Al-Nahl: 5)

    Di sisi lain, ada beberapa agama yang mengharamkan memakan daging.  Misalnya,  agama Budha  d a n
Hindu. Mereka hanya membolehkan manusia memakan tumbuh-tumbuhan,   layaknya   kaum    vegetarian. 
Sekalipun tumbuh-tumbuhan ini kaya akan unsur-unsur penting, semisal mineral,  karbihidrat dan  vitamin,
tapi porsi makan penting yang digunakan untuk menhasilkan kalori dan pembentukan jaringan,  jauh  lebih
banyak dari makanan tumbuh-tumbuhan itu. Oleh karena itu, manusia harus mengonsumsi makanan   seim-
ibang (nabati dan hewani) yang bisa mendorong sekaligus membantu kerja semua anggota tubuh.

    Biasanya kaum vegetarian menderita penyakit anemia dan kekurangan vitamin B 12,   zat besi,  yodium, 
kalsium, seng, yabuplamin, dan vitamin D, yang kesemuanya banyak terkandung di dalam makanan hewani.
Di samping itu, protein hewani memiliki kemiripan--dalam tingkat yang tinggi--dengan protein manusia,
sehingga pemanfaatannya pun berlangsung maksimal.

    Demikianlah hikmah Islam tampakdengan jelas dalam nash yang menyerukan pentingnya keseimbangan
dalam hal makanan. Allah Ta'ala berfirman:

     "Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang merak ingini."
     (QS. Al-Thur:22)

     "Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan." 
     (QS. Al-Waqi'ah: 20-21)

     Dalam kedua ayat di atas tergabung secara sempurna antara makanan nabati dan hewani.
Poskan Komentar