Senin, 11 Maret 2013

Istighfar Adalah Pembuka Jalan

Oleh admin Rahmatullah.MA

Ibnu Taimiyyah berkata, ''Jika masalah yang saya hadapi mengalami kebuntuan, maka saya akan beristighfar kepada Allah
sebanyak seribu kali--atau kurang lebih sebanyak angka itu--niscaya Allah akan membukakan jalan keluar.''

{Maka aku katakan kepada mereka: ''Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.''}
(QS. Nuh: 10)

Salah satu sebab ketenangan hati dan pikiran adalah beristighfar kepada Dzat Yang memiliki keagungan (Dzul Jalal).

Banyak hal yang di anggap berbahaya tetapi justru mendatangkan manfaat. Setiap qadha' pada dasarnya baik, termasuk kemaksiatan yang ia lakukan.

Dalam al-Musnad karya Imam Ahmad, disebutkan: ''Allah tidak memberlakukan sebuah qadha' kepada hamba-Nya kecuali itu menjadi sebuah kebaikan baginya.''

Ketika di tanyakan kepada Ibnu Taimiyyah, ''Sampai pun kemaksiatan?" Ibnu Taimiyyah menjawab, "Ya, jika maksiat itu di barengi dengan taubat dan penyesalan, istighfar dan kesadaran."

{Jika mereka menganiaya dirinya, mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk anak mereka, tebtulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.}
(QS. An-Nisa: 64)

Abu Taman berkata tentang masa-masa bahagia dan sulitnya:
Tahun-tahun berlalu bersama kebahagiaan dan kesenangan
Karena terlalu singkatnya tahun-tahun itu seperti hitungan hari
Kemudia datang hari-hari susah
seakan-akan hari-hari itu tahun-tahun yang lama karena panjangnya
Kemudian masa-masa itu lenyap bersama dengan manusia
masa-masa itu dan manusia-manusia itu tak ubahnya mimpi

{Dan, masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).}
(QS. Ali-'Imran: 140)

{Pada hari mereka melihat hari bangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.} (QS. An-Nazi'at: 46)

Saya kagum kepada orang-orang besar yang pernah di kenal dalam catatan sejarah.Ujian, cobaan, dan bencan mereka hadapi seperti kucuran air hujan atau hembusan angin. Dan, di barisan paling depan dari mereka adalah pemimpin semua makhluk, Muhammad Rasulullah. Dalam perjalanannya menuju Madinah, dia bersembunyi di dalam gua bersama sahabatnya, Abu Bakar. Pada saat musuh mendekati mereka, ia berkata kepada temannya itu,
{Janganlah akmu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.}
(QS. At-Taubah: 40)

Dalam perjalanan hijrah karena di usir dari kampung halamannya, ia memberi kabar gembira kepada Suraqah, yang membuntuti perjalanannya, bahwa dia akan memakai gelang Kisra.

Pada saat Perang Badar dia dengan semangat mengenakan baju perangnya dan berkata,
{Golongan itu akan di kalahkan dan mereka akan mundur kebelakang.} (QS. Al-Qamar: 45)

Pada saad Perang Uhud--setelah banyak sahabat yang terluka dan terbunuh--dia berkata kepada para sahabatnya, "Berbarislah kalian di belakangku, maka aku akan memuji Rabbku."

Ini merupakan semangat tinggi kenabian yang menebus bintang-bintang di angkasa dan tekad seorang Nabi yang mengguncang gunung-gunung.

Qais bin 'Ashim al-Manqari adalah orang Arab yang sangat penyabar. Suatu saat ia sedang duduk menceritakan sebuah kisah di depan kaumnya. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki tergopoh-gopoh mengatakan, "Anakmu tidak menggeser duduknya dan tidak menghentikan ceritanya hingga selesai. Setelah selesai, dia berkata, "Mandikan dan kafani jenazahnya! Setelah selesai panggil aku untuk menyalatkannya."

{Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.} (QS. Al-Baqarah: 177)

Pada saat sakaratul maut, kepada Ikrimah bin Abu Jahal ditawarkan air. Tapi jawabnya, "Berikan air itu kepada fulan--dan akhirnya di berikan kepad aHarits bin Hisyam. Selanjutnya baik Ikrimah maupun Harits meninggal.

Jika dibunuh maka darah mereka akan bergolak oleh kemuliaan
dulu salah satu jalan kematian mereka adlah terbunuh.[]

Gabung yuk di FP Renungan Doa dan Motivasi
Poskan Komentar